Minggu, 17 Februari 2008

ANTARA NASIONALISME dan PERUT

ANTARA NASIONALISME DAN PERUT

Setelah pulau ambalat dan legitan lepas dari pangkuan ibu pertiwi, menyusul pula reog ponorogo, lagu sijali-jali, batik, jamu, tahu-tempe dan bahkan banyak lagi kekayaan alam dan budaya Indonesia yang diklaim negara lain kini kembali mencuat satu kemelut yang membuat Indonesia kembali kebakaran jenggot.

Betapa tidak. Krisis multidimensi yang mendera Indonesia menjadikan TKI menjadi pilihan termudah. Hal ini makin diperparah oleh kurangnya perhatian dan rasa penghargaan pemerintah kepada warganya yang memiliki keahlian dan kemampuan. Hal ini membuat mereka lebih memilih berkarya dinegeri orang lain.

Saat ini, kembali hangat pemberitaan banyaknya warga Indonesia (tki) yang menjadi militan dinegeri jiran. Perekrutan mereka menjadi pasukan penjaga perbatasan menimbulkan tanda Tanya akan nasionalisme mereka. Benarkan rasa nasionalsime itu telah pudar di sanubari mereka? Lalu siapa yang musti bertanggung jawab. Mereka atau pemerintah yang tidak peduli dengan kesejahteraan mereka. Sikap acuh pemerintah yang tak lagi menanamkan sikap nasionalisme. Mestikah alasan perut (ekonomi dan kersejahteraan) meski kita maklumi. Sekarang, menjadi tugas kita semua untuk mewujudkan negeri yang rahmatan lilalamin

(rubrik "santri")

Tidak ada komentar: