Selasa, 25 November 2008
ANARKISME MAHASISWA MAKASSAR
Sebuah pertanyaan bernada klise selalu tampil ketika terjadi aksi anarkis mahasiswa khususnya mahasiswa Makassar. Apa yang menyebabkan mahasiswa begitu bringas dan selalu melakukan keonaran, tawuran, dan tindak kekerasan? Apakah tidak terlalu berlebihan apabila bentuk solidaritas dan kesetiakawanan terhadap rekan sesama mahasiswa justru melahirkan masalah baru dan besar? Seperti contoh kasus yang terjadi di kampus Unismuh Makassar beberapa waktu yang lalu. Mahasiswa bentrok dengan aparat kepolisian hanya karena mahasiswa menilai bahwa salah seorang rekan mereka murni terkena peluru milik salah seorang oknum anggota polri.
Kita barangkali sudah jenuh dan bahkan muak bila melihat, mendengar, dan membaca di media-media tentang aksi anarkis mahasiswa khususnya di Makassar yang kian sering terjadi dan amat memprihatinkan itu. Sebagian orang menilai aksi anarkis mahasiswa dari sudut pandang psikologi perkembangan bahwa itu semua terjadi karena luapan gejolak jiwa muda yang masih dalam proses pencarian identitas diri. Sebagian lagi melihatnya sebagai ekses dari revolusi komunikasi (informasi) dan dampak globalisasi. Namun, ketika aksi mahasiswa itu telah mengganggu ketertiban umum seperti memacetkan arus lalu lintas, membajak kendaraan yang kebetulan lewat di depan kampus mereka, merusak fasilitas umum maka gejala ini sudah memasuki wilayah umum (kriminalitas), anomi massa dan religiositas. Aksi mahasiswa UIN Makassar sebagai bentuk solidaritas atas aksi rekan mereka dari mahasiswa Unismuh menjadi contoh nyata. Tindakan mahasiswa menutup akses jalan di depan kampus telah menimbulkan kesalahpahaman dengan iring-iringan pengantar jenasah yang berakhir ricuh.
Berbagai argumen sosiologi dan psikologi selalu dikedepankan tetapi fenomena ini seakan tidak pernah surut. Dalam pandangan psikologi perkembangan mengatakan bahwa usia tingkat mahasiswa dianggap wajar sebagai proses pencarian identitas. Tetapi pendekatan ini tidak memadai karena mengabaikan factor-faktor sosiologis yang memungkinkan mereka belajar dari setiap peristiwa yang ada.
Dalam perkembangannya, mahasiswa memiliki tipe yang berbeda. Ada mahasiswa yang tidak sadar dengan ketidakmampuannya (unconsciously incompetent), ada mahasiswa yang sadar akan ketidak mampuannya (consciously incompetent), ada mahasiswa yang sadar akan kemampuannya (consciously competence), dan mahasiswa yang tidak sadar akan kemampuannya (unconsciously competence).
Dalam kaitan ini ada dua ciri utama dari mahasiswa Makassar yang sering terlibat aksi anarkis selama ini. Pertama, mereka umumnya berasal dari komunitas marjinal. Baik aspek latar belakang ekonomi keluarga, asal institusi, maupun interaksi antara mahasiswa dan pihak birokrasi di kampus mereka. Dengan kata lain aksi anarkis jarang dilakukan oleh mahasiswa dari perguruan tinggi elite atau mahasiswa yang memiliki prestasi akademik dan perguruan tinggi yang memiliki suasana kampus yang mendukung. Kedua, aksi anarkis mahasiswa selalu menunjukkan gejala pengelompokan massa dengan agesivitas yang progresif.
Kondisi ini boleh jadi karena faktor jiwa muda yang ingin menunjukkan bahwa mereka lebih hebat dari yang lainnya. Menurut teori, agresifitas manusia muncul sebagai akibat kenyataan hidup yang selalu memperoleh tekanan dari kondisi sekitar. Sementara fenomena mahasiswa selalu ingin bebas dari tekanan dan penuh idealisme. Dan ini adalah pengalaman pribadi penulis sewaktu masih menempuh pendidikan disebuah universitas di Makassar. Betapa repotnya untuk berinteraksi secara kekeluargaan dengan dosen. Hubungan antara dosen dengan mahasiswa begitu kaku yang dipisahkan oleh sekat pembeda. Mahasiswa kadang malas untuk berinteraksi dengan dosen karena dosennya terkesan tidak familiar. Dosen selalu sibuk dengan urusan diluar sehingga waktu untuk mahasiswa untuk konsultasi akademik teramat terbatas. Antonio gransci menyebut fenomena ini dengan block social (social block) yang membuat mereka tidak dapat berbuat banyak pada kenyataan hidup. Sosiolog A.H Halsey membuktikan bahwa ada korelasi positif antara latar belakang keluarga, keberhasilan pendidikan dan kondisi lingkungan keseharian.
Sungguh ironis mengingat posisi mahasiswa sebagai calon-calon intelektual di masyarakat malah terjerumus dalam tindakan sesaat yang melibatkan kekuatan otot. Padahal mereka sesungguhnya mendapat tanggungjawab untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang kian kompleks.
Muncul pertanyaan. Apa sebenarnya yang terjadi pada mahasiswa khususnya mahasiswa Makassar. Mengapa tindakan anarkis kerap terjadi. Apakah ada yang salah dengan model-medel pendidikan tinggi di Makassar? Ataukan mereka sudah apatis dengan predikat mereka dan menganggap bahwa status mahasiswa hanyalah sebuah jenjang pendidikan biasa. Terutama mengingat begitu membludaknya pengangguran intelektual yang ada dikota Makassar ini. Idealnya seorang mahasiwa mustinya menjadi mahasiwa yang sadar akan kemampuannya (consciously competent).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar