Jumat, 12 Desember 2008

FENOMEN BULLYING DAN KECERDASAN EMOSIONAL

Pada suatu sore seorang rekan yang sementara menempuh pendidikan di sebuah sekolah tinggi kesehatan datang ketempat saya. Rekan saya itu bermaksud meminta komentar dan pendapat saya mengenai pengalaman yang dialaminya dikampusnya beberapa hari yang lalu. Sebagai rekan yang baik, saya mencoba menempatkan diri saya pada posisi “pendengar” yang efektif layaknya seorang konselor atau psikolog dengan kliennya. Rekan saya itu mulai menceritakan kronologis ketegangan yang dialaminya bersama rekan-rekannya yang lain. Lagi-lagi dosen vs mahasiswa dimana seorang dosen selalu berdiri pada posisi “Penguasa” dan “serba benar”. Dosen tersebut memperlihatkan sikap emosional didepan mahasiswanya karena kesalapahaman belaka. Dosen tersebut tetap ngotot memberikan kuliah praktek sementara para mahasiswa menolak dengan alasan bahwa jadwal hari itu adalah kuliah teori. Terlebih lagi para mahasiswa tidak memdapat pemberitahuan sebelumnya bahwa hari itu mereka ada ujian praktek. Sikap emosional oknum dosen semakin tidak terkendali dan kerap kali meledak meski hanya hal-hal sepele (tak perlu dikemukakan secara rinci). Setelah mendengar dan menyimak saya spontan bertanya kepada saya tersebut. Berapa umur dosen itu. Ternyata dugaan saya tidak salah. Menurut pengalaman pribadi saya kerap melihat oknum dosen yang memperlihatkan “emosi yang prematur” karena faktor umur yang memang masih labil dan gamang. Dosen tersebut (28 tahun) belum bisa menempatkan dirinya pada posisi sebagai layaknya seorang dosen yang secara hirarki berbeda dengan mahasiswa-mahasiwanya.. Sifat-sifat kekanakannya masih begitu kental mungkin karena masih dalam fase peralihan dari remaja menuju fase dewasa awal. Terlebih lagi kalau ruang pergaulan oknum dosen tersebut masih secara aktif terlibat secara fisik dan emosional dengan orang-orang yang seumuran dengan para mahasiswanya itu. Pengalaman yang dialami oleh rekan saya itu tak jauh beda dengan apa yang saya alami di kampus sendiri. Ada seorang oknum dosen muda yang secara intelektual cukup handal. Hal ini bisa dilihat dengan titel S2 yang diperoleh dari luar negeri. Tak jarang setiap saya ingin melakukan bimbingan akademik ataupun skripsi perlakuan yang tak mengenakkan sering saya alami. Sikap yang tidak ramah, membuang muka setiap bertatap muka, sok dewasa, anti dengan kritik dan masukan, dan tidak memahami pentingnya hubungan harmonis antara dosen dan mahasiswa. Semua pengalaman ini saya alami sendiri. Terkait hubungan antara mahasiswa dan dosen dapat dilihat Fakta dilapangan yangmenunjukkan bahwa dalam beberapa semester berlalu hampir 40% mahasiswa tidak mengenal dosen PA-nya, dan hampir 100% dosen tidak mengenal semua mahasiswa bimbingannya berkaitan dengan kedudukannya sebagai dosen PA. Mengapa hal ini terjadi? Dugaan sebagai jawaban sementara adalah bahwa mahasiswa tidak memiliki motivasi yang kuat untuk mengenal dosen PA-nya. Dosen PA kurang memahami tanggung jawabnya sebagai dosen PA, sehingga kurang memberikan perhatian yang serius terhadap tugas-tugas seorang dosen PA. Mengapa ini terjadi? Prediksi jawabannya adalah bahwa mahasiswa tidak memahami tugas dan tanggung jawab dosen PA-nya yang sesungguhnya menjadi haknya untuk dia dapatkan. Mengapa ini terjadi? Lagi-lagi prediksi jawabannya adalah kegagalan sosialisasi peraturan akademik dan kemahasiswaan, baik bagi dosen, maupun bagi mahasiswa yang menurut saya adalah cikal bakal utama timbulnya kasus bullying Ternyata kalau kita mau jujur mengakui bahwa fenomena bullying ternyata bisa terjadi dimana dan kapan saja. Beberapa waktu yang lalu perhatian kita tersedot pada kasus bullying di televise dengan gank nero sebagai pemeran utamanya. Perilaku agresif dari seseorang yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri merupakan tindakan bullying. Terlepas apakah tindakan oknum dosen dalam interaksi dengan mahasiswa merupakan tindakan yang bisa di kategorikan bullying atau tidak dapat dilihat dari pengklafisikasian bullying itu sendiri. Ada 5 kategori perilaku bullying tersebut,yaitu: 1.Kontak Fisik Langsung.Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain. 2.Kontak Verbal Langsung. Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip. 3.Perilaku non-verbal langsung. Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal. 4. Perilaku non-verbal tidaklangsung. Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng. 5. Pelecehan seksual. Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah perilaku-perilaku yang dapat dikategorikan sebagai perilaku agresi fisik dan bisa juga verbal. Selalu muncul pertanyaan dalam benak kita. Sebenarnya mengapa tindakan tersebut kerap terjadi dan apa dampak yang paling besar yang bisa dirasakan oleh pihak penderita dalam hal ini mahasiswa sebagai anak didik. Yang pasti dampak secara fisik dan psikologi pastilah sangat membekas di hati para anak didik itu sendiri. Bullying mungkin merupakan bentuk agresivitas yang memiliki akibat paling negatif bagi korbannya (anak didik/mahasiswa). Hal tersebut disebabkan karena dalam peristiwa bullying terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku (pendidik/dosen) memiliki kekuasaan yang lebih besar sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban bullying akan cenderung mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah (low psychological well-being), penyesuaian sosial yang buruk, gangguan psikologis, dan kesehatan yang memburuk (Rigby, dalam Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, 2005). Korban bullying juga bisa mengalami penyesuaian sosial yang buruk sehingga ia terlihat seperti membenci lingkungan sosialnya, enggan ke sekolah, selalu merasa kesepian, dan sering membolos sekolah. Apabila kita melihat lebih jauh lagi maka korban bullying juga dapat memancing timbulnya gangguan psikologis rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). Bullying ternyata tidak hanya menimbulkan dampak negatif dalam segi psikologis, namun juga dari segi fisik. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) menyebutkan bahwa salah satu dampak dari bullying yang jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bagi para korban bullying yang mengalami perilaku agresif langsung juga mungkin mengalamin luka-luka pada fisik mereka. Melihat fenomena yang terkesan diabaian ini, masihkan kita membiarkan karakter-karakter para anak didik menjadi rapuh karena ketidak matangan psikologi dan kejiwaan seorang pendidik sebagai suatu bentuk kecerdasan emosional yang masih perlu diasah. Semuanya kini kembali kepada kita semua.

Tidak ada komentar: