Jumat, 26 Desember 2008
WASPADA WABAH PENYAKIT MENGANCAM KITA
Akhir dan awal tahun biasanya ditandai dengan datangnya musim hujan.Hujan deras yang terus mengguyur sebagian besar wilayah di Indonesia termasuk di kota makassar selama beberapa pekan terakhir ini menyebabkan banjir yang makin meluas di beberapa titik yang memang rawan terhadap banjir. Dampak banjir bukan hanya menyebabkan kerugian harta tetapi juga membawa bibit penyakit.
Pada kenyataannya, baik langsung maupun tidak langsung, pergantian musim kemarau ke musim hujan (pancaroba) berdampak pada kesehatan. Berbagai penyakit bisa muncul di pergantian musim ini yang mustinya masyarakat waspadai.. Penyakit yang bisa muncul di musim pancaroba sekarang ini bisa berupa demam Berdarah,diare, Leptospirosis, ataupun ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Penyakit-penyakit yang kerap kali menjangkit di musim hujan itu perlu diketahui oleh masyarakat baik ciri, atau gejala penyakit itu, bahaya yang ditimbulkan, pencegahan dan cara penanggulangannya.
Diare. Perilaku kebersihan dan sanitasi yang buruk menjadi penyebab penyakit diare. Selain air yang terkontaminasi, kebiasaan buruk seperti tidak mencuci tangan menggunakan sabun membuat kuman mudah masuk ke tubuh manusia. Masyarakat di kota besar seperti makasasar belum memiliki sarana sanitasi yang baik sehingga jika musim hujan tiba kotoran dan bibit penyakit yang ada di tanah akan terbawa oleh air hujan masuk ke dalam sumur penduduk.
Influenza. Anak-anak berusia balita merupakan golongan yang paling rentan terkena influenza. Masa inkubasi-waktu dari paparan virus sampai timbul gejala- influenza sangat cepat, hanya tiga sampai tujuh hari. Gejalanya berupa nyeri kepala, demam, menggigil, nyeri otot, lemas, hingga kejang. Peningkatan suhu badan dapat terjadi dalam 12-24 jam. Dapat juga muncul bersin dan batuk tidak berdahak. Faktor pemicunya antara lain udara dingin dan turunnya kekebalan tubuh, terutama pada bayi di bawah satu tahun dan orang usia lanjut. Bila terserang influenza, mereka berisiko terkena ISPA, termasuk radang paru. Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menghindari hujan-hujanan, menghindari kontak dengan penderita serta menjaga daya tahan tubuh.
Leptospirosis Penyakit yang termasuk penyakit mematikan ini disebabkan oleh bakteri leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia. Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Namun diduga penularannya lebih banyak melalui air kencing tikus, meski tidak semua tikus mengandung bakteri tersebut. Gejala awal yang perlu dicurigai antara lain, demam tinggi, nyeri otot di betis, serta pusing-pusing. Jika tidak ditangani segera, pasien yang terkena bakteri leptospira ini bisa terkena gagal ginjal serta penyakit kuning.
Demam Berdarah. Meski wabah penyakit ini selalu muncul berulang setiap tahunnya, namun tetap saja banyak orang yang terkena, bahkan hingga meninggal dunia. Virus yang berasal dari gigitan nyamuk Aedes aegypti memang tidak bisa dianggap remeh, empat-lima hari pasca gigitan, gejala demam berdarah sudah muncul. Gejala awal penyakit ini mirip dengan flu. Biasanya dimulai dengan panas tinggi selama 2 sampai 7 hari, diikuti dengan badan lesu dan lemah, tidak nafsu makan, nyeri pada ulu hati, mual dan muntah. Kadang disertai dengan mencret dan nyeri otot. Tampak bintik-bintik merah pada kulit. Bila sudah parah, penderita gelisah. Tangan dan kakinya dingin dan berkeringat. Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan membasmi nyamuk dengan obat semprot, memakai kelambu saat tidur serta memutus rantai perkembangbiakan nyamuk dengan cara 3M (menguras, menutup dan mengubur).
Bagaimana masyarakat harus menyikapi semua hal di atas? Untuk meminimalkan dampak kesehatan di atas, diperlukan partisipasi aktif masyarakat. Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kebersihan perorangan dan anggota keluarga masing-masing, seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan minum dan memasak air yang akan dikonsumsi. Selain itu, memperhatikan jajanan, terutama yang dijajakan keliling untuk anak-anak. menghindari daerah yang berdebu, terutama tempat bermain anak-anak merupakan tindakan yang cukup efektif.selain itu meningkatkan daya tahan tubuh seperti mengonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang, banyak makan sayuran dan buah-buahan; serta secara rutin melakukan pembersihan sarang nyamuk(PSN).
Selain masyarakat petugas kesehatanpun perlu meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang perilaku hidup sehat. Selain itu, meningkatkan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat dengan mempersiapkan kebutuhan logistik dan obat-obatan yang cukup. Mencermati kasus-kasus dengan gejala panas, terutama kasus yang berasal dari satu daerah yang sama, misalnya dari RT yang sama, dari sekolah yang sama, atau dari keluarga yang sama. Di samping itu, petugas kesehatan mustinya sering turun ke lapangan untuk mengumpulkan informasi terkait dengan masalah kesehatan dan segera mengambil langkah antisipasi dengan melibatkan masyarakat setempat.
Pada situasi pancaroba ini Departemen Kesehatan semestinya berkoordinasi dengan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) untuk memonitor perkembangan tentang cuaca termasuk curah hujan. Selain itu, memastikan kepada seluruh jajaran kesehatan, baik di Unit Pelaksana Teknis (UPT) maupun Dinas Kesehatan Provinsi di seluruh Indonesia, tentang kesiapsiagaan menghadapi masalah kesehatan yang muncul akibat pancaroba. Depkes juga menyiapkan Tim Gerak Cepat di seluruh wilayah Indonesia, baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota, dan meningkatkan kesiapan Posko Bencana diseluruh wilayah regional.
Karena dampak buruk hujan bagi kesehatan, sungguh masuk akal jika di masyarakat kita berkembang pepatah sangat terkenal yang berbunyi "sedia payung sebelum hujan". Dalam arti yang luas, pepatah ini sebenarnya juga mengingatkan kita semua agar lebih preventif menghadapi kondisi yang mungkin muncul suatu saat dan tanpa di duga-duga dimusim hujan ini. Dengan persiapan matang seperti inilah keluarga kita akan terjaga dari seranan penyakit dimusim hujan ini.
BY.abdul
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar