Sabtu, 06 Desember 2008
MELAWAN HEGEMONI DENGAN FILM
Malam itu waktu telah menunjukkan pukul 18:30 wita. Sesuai jadwal yang tertera di undangan panitia, Semestinya film-film segera diputar. Ruangan terbuka di salah satu bagian gedung Bakti yang berisi kursi-kursi masih terlihat sepi oleh undangan. Hanya beberapa orang panitia yang tampak sibuk mempersiapkan acara nonton bareng malam itu. Termasuk seorang transgender yang siap-siap berdandan yang malam itu akan menjadi ikon acara nonton bareng yang digagas oleh komunitas sehati bekerja sama dengan Bakti.
Tak berapa lama kemudian suasana menjadi semarak. Satu persatu undangan mulai berdatangan mengisi kursi-kursi yang telah dipersiapkan oleh pihak panitia. Selain dari komunitas sehati sendiri, tampak pula beberapa undangan dari lembaga advokasi perempuan.
Film-film itupun satu persatu mulai ditayangkan melalui layer LCD. Dimalam pertama ada tiga film yakni film yang berjudul perempuan punya cerita, only god knows dan bend it. Film yang berjudul perempuan punya cerita menceritakan kisah empat perempuan dengan kisah dan problem berbeda. Kisah pulau yang menceritakan dilema yang dialami oleh seorang bidan yang mempertaruhkan profesinya kebidanannya antara kemanusiaan dan hukum pidana yang siap menjerat karena praktek aborsi yang dilakukannya pada seorang gadis idiot yang hamil karena pemerkosaan (kehamilan yang tak diinginkan dan beresiko tinggi). Kisah lain tentang seorang ibu yang anaknya dijual oleh sahabatnya sendiri (trafficking anak), ada pula kisah pergaulan bebas remaja dengan settting kota Jogjakarta yang terkenal sebagai kota pelajar. Dan terakhir adalah kisah seorang perempuan yang mengidap HIV/AIDS. Kisah-kisah yang mengangkat issue HAM, Perempuan & Trafficking serta HIV/AIDS tersebut benar-benar menggugah hati para penonton yang sempat datang malam itu. Film yang lain malam itu adalah only god knows dan bend it masih bertemakan kaum marjinal yakni fenomena lesbian.
Pada malam kedua ada dua film yang sempat diputar yakni film dengan judul dua sisi dan film yang berjudul opera tikus got. Kali ini film yang berjudul dua sisi bertemakan sisi kehidupan kaum waria yang menyorot pada dua sisi yang benar-benar berbeda. Penonton diajak melihat secara dekat bagaimana kehidupan dan pola perilaku sehari-hari dari kaum komunitas bissu yang ada dikabupaten pangkep Sulsel. Sisi kehidupan waria yang tetap memperlihatkan sisi maskulin, mandiri, berwibawa dan mempunyai peranan yang cukup urgen dalam strata kehidupan masyarakat. Disisi lain diperlihatkan corak dan warna kehidupan kaum waria ibukota yang berkecimpung dalam dunia gemerlap, dunia malam, yang selalu identik dengan kehidupan hura-hura. Benar-benar dua sisi yang sekilas terlihat bertolak belakang satu dengan lainnya. Satu hal yang pasti adalah adanya kesamaan antara kedua komunitas berbeda itu. Yakni kecenderungan berdandang layaknya perempuan dalam mempersiapakan diri menghadapi suatu event atau perayaan. Sementara itu film yang berjudul opera tikus got menceritakan potret kehidupan masyarakat bawah yang dekat dengan kemiskinan, kekumuhan, dan rawannya tindak diskriminasi yang berujung pada tindak pembunuhan dan pelecehan seksual.
Dari nonton bareng itu tampak bahwa film ternyata bisa menghasilkan stereotipe yang kontribusinya cukup besar dalam upaya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap kaum marjinal (LGBT), dari sini muncul suatu harapan adanya pemahaman yang baik akan kaum marjinal yang selama ini menjadi sosok terpinggirkan, selalu terlecehkan, dan dianggap sebagai perusak tatanan tradisi dan adat yang sudah baku. Fakta menunjukkan bahwa seringkali suatu stereotipe kerap lahir dari kalangan kelompok dominan yang merupakan citra yang kaku dan baku dimana masyarakat hanya menerima dan mengaggap bahwa itulah yang benar. Tak salah kiranya bila komunitas sehati memanfaatkan media film sebagai alat ideologis melawan stereotype media yang selama ini didominasi oleh kaum dominan. Dengan filmlah ideologi “kemapanan” yang selama ini disangka alami terlihat kalau itu hanyalah hasil hegemoni yang dikontruksi oleh masyarakat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar